Pulihkan Keceriaan Anak Pascagempa, Polri Gelar Trauma Healing Sambil Belajar Rambu Lalu Lintas

Pulihkan Keceriaan Anak Pascagempa, Polri Gelar Trauma Healing Sambil Belajar Rambu Lalu Lintas

LABUAN BAJO — Di tengah masa pemulihan pascagempa bumi yang mengguncang Pulau Flores, Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) tidak hanya hadir untuk memastikan keamanan dan menyalurkan bantuan kebutuhan dasar. Perhatian juga diarahkan kepada anak-anak yang ikut merasakan dampak psikologis akibat bencana.

Suasana berbeda terlihat di SMP St. Yosefa, Jalan Frans Lega, Desa Batu Cermin, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Sabtu (29/8/2026) sore.

Sejumlah anak terdampak gempa diajak bermain, belajar, dan berinteraksi bersama personel kepolisian melalui kegiatan trauma healing. Kegiatan yang dimulai pukul 16.00 WITA tersebut menjadi ruang bagi anak-anak untuk sejenak melupakan ketakutan dan kecemasan yang muncul setelah bencana.

Kapolda NTT Irjen Pol. Dr. Rudi Darmoko, S.I.K., M.Si., melalui Kabidhumas Polda NTT Kombes Pol Henry Novika Chandra, S.I.K., M.H, menyampaikan bahwa pemulihan pascabencana tidak cukup hanya dilakukan dengan memperbaiki bangunan dan memenuhi kebutuhan logistik.

Menurutnya, kondisi psikologis masyarakat, khususnya anak-anak, juga harus menjadi perhatian.

Anak-anak merupakan kelompok yang membutuhkan pendampingan khusus setelah mengalami situasi traumatis. Karena itu, jajaran Polda NTT terus mendorong kegiatan yang mampu menghadirkan rasa aman sekaligus mengembalikan keceriaan mereka.

“Pemulihan pascabencana bukan hanya tentang membangun kembali rumah dan fasilitas yang rusak, tetapi juga memulihkan rasa aman dan keceriaan anak-anak. Mereka perlu ditemani, diajak bermain, belajar dan diberikan ruang untuk kembali tersenyum,” ujar Kabidhumas Polda NTT menyampaikan pesan Kapolda NTT.

Kegiatan tersebut melibatkan personel Satlantas Polres Manggarai Barat, Satbinmas, Tim Trauma Healing Psikologi Polda Jawa Tengah serta personel Dokkes.

Pendekatan yang digunakan pun dibuat dekat dengan dunia anak. Selain bermain dan berinteraksi, anak-anak diajak mengenal rambu-rambu lalu lintas dengan cara yang menyenangkan.

Tidak berhenti di lingkungan sekolah, anak-anak juga mendapatkan pengalaman berbeda dengan diajak patroli bersama mengelilingi kota.

Bagi anak-anak yang masih menyimpan ketakutan setelah gempa, kegiatan tersebut bukan sekadar permainan. Kehadiran polisi di tengah mereka menjadi pesan bahwa ada orang-orang yang siap menemani dan menjaga mereka melewati masa sulit.

Kegiatan ini juga menunjukkan bahwa tugas kemanusiaan Polri dalam penanganan bencana menyentuh berbagai sisi kehidupan masyarakat. Mulai dari pengamanan wilayah, pelayanan kesehatan, distribusi bantuan, hingga pendampingan psikologis bagi kelompok rentan.

Tim Trauma Healing Psikologi Polda Jawa Tengah yang terlibat dalam kegiatan tersebut terdiri dari Ipda Putri Agustina, S.Psi., M.M., Briptu Bagoes Hendra, S.Psi., dan Briptu Narulita Dian H., S.Psi.

Sementara pelayanan kesehatan turut diperkuat personel Dokkes, yakni Brigpol Maria Y.S. Lestari Jelahu, Amd.Fis., dan Ns. Yosefina Y.K. Sudirman, S.Kep., Ners.

Dari jajaran Polres Manggarai Barat, kegiatan melibatkan tiga personel Satbinmas, yakni Aiptu Teguh Rasul Ilahi, Aiptu Putu Uji Sariani dan Bripda Evaldus Hambur, serta lima personel Satlantas.

Kapolda NTT, melalui Kabidhumas, menegaskan bahwa pendampingan terhadap anak-anak akan terus menjadi bagian dari upaya pemulihan masyarakat terdampak gempa.

“Kami ingin anak-anak kembali merasa aman. Biarkan mereka bermain, belajar dan kembali menikmati masa kanak-kanaknya. Polri akan terus hadir bersama masyarakat dalam proses pemulihan ini,” ungkapnya.

Di tengah suasana pascabencana, tawa anak-anak menjadi sesuatu yang sangat berarti. Sebab, ketika sebuah bencana meninggalkan rasa takut, mengembalikan senyum mereka adalah bagian dari proses untuk bangkit.

Polri pun memastikan kehadirannya tidak hanya ketika masyarakat membutuhkan bantuan, tetapi juga ketika mereka membutuhkan teman untuk kembali menumbuhkan keberanian dan harapan.

Kegiatan trauma healing di SMP St. Yosefa berlangsung aman, tertib dan lancar.

NTT Penuh Kasih, Polri untuk Masyarakat.