Kabidhumas Polda NTT: Teori Sun Tzu dan Clausewitz Relevan Hadapi Pertempuran Persepsi di Era Digital

Kabidhumas Polda NTT: Teori Sun Tzu dan Clausewitz Relevan Hadapi Pertempuran Persepsi di Era Digital

Kupang – Teori strategi perang klasik yang dikemukakan Sun Tzu dan Carl von Clausewitz dinilai masih sangat relevan dalam menghadapi tantangan keamanan di era digital. Bagi Polri, khususnya fungsi kehumasan, kemenangan saat ini tidak lagi hanya ditentukan oleh keberhasilan di lapangan, tetapi juga oleh kemampuan memenangkan persepsi publik melalui pengelolaan informasi yang cepat, akurat, dan kredibel.

Pandangan tersebut disampaikan Kabidhumas Polda NTT, Kombes Pol. Henry Novika Chandra, S.I.K., M.H., saat memberikan arahan kepada personel Bidang Humas Polda NTT di Mapolda NTT, Senin (13/7/2026).

Dalam arahannya, Kombes Pol. Henry menjelaskan bahwa perkembangan teknologi informasi telah mengubah karakter ancaman keamanan. Jika dahulu konflik terjadi melalui konfrontasi fisik, kini ruang siber menjadi arena baru yang dipenuhi perang informasi, penyebaran hoaks, disinformasi, propaganda digital, hingga upaya membentuk opini publik secara sistematis.

Menurutnya, kondisi tersebut menuntut Humas Polri memiliki cara berpikir strategis sebagaimana diajarkan Sun Tzu dalam The Art of War.

"Sun Tzu mengajarkan bahwa kemenangan terbaik adalah kemenangan yang diraih tanpa harus bertempur. Filosofi ini sangat relevan dengan tugas Humas Polri. Kita harus mampu mencegah konflik melalui komunikasi yang baik, penguasaan informasi, deteksi dini, dan membangun narasi positif sebelum persoalan berkembang menjadi krisis," ujar Kombes Pol. Henry Novika Chandra.

Ia menjelaskan, strategi "menang tanpa bertempur" dapat diterapkan melalui penguatan intelijen informasi, patroli siber, analisis media sosial, komunikasi publik yang efektif, serta kemampuan membaca dinamika masyarakat. Dengan demikian, potensi gangguan keamanan dapat diredam sebelum berkembang menjadi konflik yang lebih besar.

Kabidhumas menambahkan bahwa di tengah derasnya arus informasi digital, masyarakat tidak hanya membutuhkan informasi yang cepat, tetapi juga informasi yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan.

Selain pemikiran Sun Tzu, Kabidhumas juga menekankan pentingnya memahami teori Carl von Clausewitz, khususnya konsep Fog of War atau kabut perang yang menggambarkan situasi penuh ketidakpastian dalam proses pengambilan keputusan.

"Clausewitz mengingatkan bahwa setiap konflik selalu diwarnai ketidakpastian. Dalam ruang digital, kita menghadapi banjir informasi yang belum tentu benar. Karena itu, setiap personel Humas harus mampu melakukan verifikasi, validasi, dan klarifikasi secara cepat agar opini publik tidak dibentuk oleh informasi yang keliru," katanya.

Ia menjelaskan bahwa konsep Fog of War saat ini dapat dianalogikan dengan derasnya arus informasi di media sosial yang sering kali bercampur antara fakta, opini, bahkan disinformasi. Oleh sebab itu, kecepatan dan ketepatan dalam menyampaikan informasi resmi menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas keamanan.

Kabidhumas juga mengulas konsep Center of Gravity yang diperkenalkan Clausewitz sebagai pusat kekuatan utama lawan. Menurutnya, dalam konteks keamanan digital, pusat kekuatan tersebut bukan hanya pelaku penyebar hoaks, tetapi juga jaringan, aktor intelektual, sumber pendanaan, hingga ekosistem digital yang menopang penyebaran informasi palsu.

"Jika kita mampu mengenali pusat kekuatan itu, maka penanganan terhadap ancaman akan jauh lebih efektif. Kita tidak hanya memadamkan persoalan di permukaan, tetapi mampu menyentuh akar masalahnya," jelasnya.

Menurut Kombes Pol. Henry, perpaduan pemikiran Sun Tzu dan Clausewitz memberikan landasan strategis yang sangat relevan bagi transformasi Polri menuju institusi yang prediktif, responsif, dan adaptif di era digital.

Sun Tzu, lanjutnya, mengajarkan pentingnya pencegahan, penguasaan intelijen, serta komunikasi yang mampu membentuk persepsi positif. Sementara Clausewitz memberikan pemahaman tentang pentingnya kemampuan mengambil keputusan secara tepat di tengah ketidakpastian serta fokus terhadap sumber utama ancaman.

"Perpaduan kedua teori tersebut menjadi bekal penting bagi Humas Polri dalam menjalankan fungsi komunikasi publik. Kita tidak cukup hanya menyampaikan informasi, tetapi juga harus mampu membangun kepercayaan, menangkal disinformasi, menjaga stabilitas opini publik, serta menghadirkan narasi yang menenangkan masyarakat," tegasnya.

Ia menambahkan bahwa keberhasilan Polri di era digital tidak lagi hanya diukur dari keberhasilan penegakan hukum, tetapi juga dari tingkat kepercayaan masyarakat terhadap institusi.

Karena itu, seluruh personel Bidang Humas Polda NTT didorong untuk terus meningkatkan kapasitas di bidang komunikasi digital, analisis media, literasi informasi, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), serta pengelolaan media sosial sebagai bagian dari transformasi menuju Polri Presisi.

"Pertempuran di era digital adalah pertempuran memperebutkan kepercayaan. Ketika masyarakat memperoleh informasi yang benar, transparan, dan dapat dipercaya dari Polri, maka kita telah memenangkan pertempuran persepsi tanpa harus menciptakan konflik. Inilah esensi pemikiran Sun Tzu dan Clausewitz yang tetap relevan bagi Polri dalam menghadapi tantangan keamanan modern," pungkas Kombes Pol. Henry Novika Chandra

#NttPenuhKasih