Beda Cara, Beda Hasil, Coach Agus E.H. Ajak Orang Tua Bangun Generasi Tangguh Melalui Growth Mindset
KUPANG – Di tengah derasnya arus perubahan zaman dan tantangan dunia digital yang semakin kompleks, peran orang tua dalam membentuk karakter anak menjadi semakin penting. Pesan inilah yang mengemuka dalam Seminar The Art of Smart Parenting yang digelar Polda NTT dalam rangka Hari Bhayangkara ke-80 dan Hari Kesatuan Gerak Bhayangkari (HKGB) ke-74 di Hotel Harper Kupang, Selasa (9/6/2026).
Dalam seminar tersebut, Direktur SBMS sekaligus Praktisi USEFT berpengalaman, Coach Agus E.H., mengajak para peserta untuk melihat kembali pola pengasuhan yang selama ini diterapkan di rumah.
Menurut Agus, banyak orang tua mengingìinkan anak yang sukses, berkarakter baik, percaya diri, dan tangguh menghadapi kehidupan. Namun tanpa disadari, pola asuh yang digunakan justru sering melahirkan anak yang mudah menyerah, takut gagal, bahkan terbiasa menutupi kesalahan.
"Jika kita menginginkan hasil yang berbeda, maka kita harus menggunakan cara yang berbeda. Dalam pengasuhan berlaku prinsip sederhana: beda cara, beda hasil," ujar Agus di hadapan para peserta seminar.
Orang Tua Adalah Sekolah Pertama Anak
Dalam paparannya, Agus menjelaskan bahwa anak-anak sejatinya belajar lebih banyak dari apa yang mereka lihat dibandingkan apa yang mereka dengar.
Karena itu, perubahan tidak bisa dimulai dari anak, melainkan harus dimulai dari orang tua terlebih dahulu.
"Anak tidak belajar dari nasihat semata. Mereka belajar dari teladan. Jika orang tua ingin anak jujur, maka orang tua harus menunjukkan kejujuran. Jika ingin anak pantang menyerah, maka orang tua harus memperlihatkan bagaimana menghadapi kegagalan dan bangkit kembali," jelasnya.
Ia menegaskan bahwa rumah adalah sekolah pertama dan orang tua adalah guru pertama yang akan membentuk cara pandang anak terhadap kehidupan.
Bahaya Membandingkan Anak
Salah satu kesalahan yang paling sering terjadi dalam pengasuhan, menurut Agus, adalah kebiasaan membandingkan anak dengan saudara atau teman sebayanya.
Kalimat seperti "Kenapa kamu tidak seperti kakakmu?" atau "Lihat temanmu, nilainya lebih bagus" mungkin terdengar sederhana, tetapi dapat meninggalkan luka psikologis yang mendalam.
"Anak yang terus dibandingkan akan tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya tidak cukup baik. Mereka akan sibuk mencari pengakuan orang lain dan kehilangan kesempatan untuk mengenali potensi dirinya sendiri," ungkapnya.
Sebaliknya, Agus mengajak para orang tua untuk mengajarkan anak membandingkan dirinya dengan dirinya sendiri.
"Pertanyaan terbaik bukan siapa yang lebih hebat, tetapi apakah hari ini kita lebih baik dari kemarin," katanya.
Membangun Growth Mindset Sejak Dini
Mengacu pada penelitian Profesor Carol Dweck tentang growth mindset, Agus menjelaskan bahwa keberhasilan seseorang tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan atau bakat, tetapi oleh keyakinan bahwa kemampuan dapat terus berkembang melalui proses belajar dan usaha.
Anak yang memiliki growth mindset tidak takut menghadapi tantangan dan tidak menganggap kegagalan sebagai akhir dari segalanya.
"Anak dengan growth mindset tidak mengatakan 'Aku tidak bisa'. Mereka mengatakan 'Aku belum bisa'. Kata belum itu sangat penting karena menunjukkan bahwa mereka masih memiliki harapan untuk berkembang," jelasnya.
Karena itu, orang tua perlu memberikan kesempatan kepada anak untuk menghadapi tantangan, mengikuti perlombaan, mencoba hal-hal baru, serta belajar menerima kegagalan sebagai bagian dari proses bertumbuh.
Jangan Hanya Memuji Kepintaran
Dalam sesi yang mendapat perhatian besar dari peserta, Agus juga mengingatkan tentang cara memuji anak yang sering kali keliru.
Menurutnya, pujian yang hanya berfokus pada bakat atau kecerdasan dapat membuat anak takut gagal karena merasa harus selalu terlihat pintar.
Sebaliknya, orang tua perlu lebih banyak menghargai proses, usaha, dan ketekunan yang dilakukan anak.
"Daripada mengatakan 'Kamu pintar', lebih baik katakan 'Saya bangga karena kamu terus berusaha meskipun sulit'. Anak akan belajar bahwa keberhasilan datang dari proses, bukan semata-mata karena bakat," ujarnya.
Mengapa Anak Berbohong?
Agus juga mengupas salah satu persoalan yang sering menjadi keluhan orang tua, yakni kebiasaan anak berbohong.
Menurutnya, kebohongan sering kali bukan akar masalah, melainkan gejala dari hubungan yang kurang sehat antara anak dan orang tua.
Ia menyebut sedikitnya lima penyebab utama anak berbohong, yakni meniru perilaku orang tua, takut terhadap hukuman yang berlebihan, ketidakkonsistenan aturan di rumah, merasa dijebak melalui pertanyaan tertentu, serta kurangnya perhatian terhadap kebutuhan emosional anak.
"Anak yang merasa aman akan lebih mudah berkata jujur. Sebaliknya, anak yang hidup dalam ketakutan akan lebih memilih berbohong demi melindungi dirinya," jelasnya.
Memahami Bahasa Kasih Anak
Selain membangun pola pikir yang sehat, Agus menekankan pentingnya orang tua memahami bahasa kasih (love language) setiap anak.
Menurutnya, tidak semua anak merasakan kasih sayang dengan cara yang sama.
Ada anak yang merasa dicintai melalui kata-kata penguatan, ada yang membutuhkan waktu berkualitas, sentuhan fisik, tindakan pelayanan, atau hadiah sebagai simbol perhatian.
"Sering kali orang tua sudah merasa sangat menyayangi anak, tetapi anak tidak merasakan kasih sayang itu karena bahasa yang digunakan berbeda. Kasih sayang yang diberikan belum tentu sama dengan kasih sayang yang dirasakan," katanya.
Menyiapkan Generasi Emas dari Dalam Rumah
Di akhir sesi, Agus mengingatkan bahwa tujuan utama pengasuhan bukanlah menciptakan anak yang selalu juara atau tidak pernah gagal.
Yang jauh lebih penting adalah membesarkan anak yang memiliki keberanian mencoba, kemauan belajar, kemampuan bangkit setelah jatuh, serta karakter yang kuat dalam menghadapi kehidupan.
"Anak-anak yang hebat tidak lahir dari rumah yang sempurna. Mereka lahir dari keluarga yang mau terus belajar, bertumbuh, dan saling menguatkan. Karena itu, perubahan harus dimulai dari diri kita sebagai orang tua," pesannya.
Melalui seminar ini, para peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan tentang pola asuh modern, tetapi juga diajak melakukan refleksi mendalam bahwa masa depan generasi emas Indonesia sesungguhnya sedang dibentuk setiap hari di dalam rumah.
Dan seperti pesan yang terus digaungkan dalam seminar tersebut, keberhasilan pengasuhan sering kali berawal dari satu prinsip sederhana: beda cara, beda hasil.
#NttPenuhKasih
Humas Polda NTT
