Dari Preman Jalanan Jadi Tukang Las: Kisah Inspiratif Brigpol Paesal Ubah Masa Depan Anak Kampung di Atambua

Dari Preman Jalanan Jadi Tukang Las: Kisah Inspiratif Brigpol Paesal Ubah Masa Depan Anak Kampung di Atambua

Atambua – Percikan api dari mesin las menyala terang di sebuah bengkel sederhana di Jalan Loro Lamaknen, Tini II, Kelurahan Manuaman, Kecamatan Atambua Selatan, Kabupaten Belu. Di balik suara besi yang ditempa, tersimpan kisah perubahan hidup yang luar biasa.

Di tempat itulah, sosok anggota Polri, Paesal, menjalankan misi kemanusiaan yang tak biasa. Selain bertugas sebagai penyidik di Satuan Narkoba Polres Belu, ia juga menjadi “guru kehidupan” bagi para pemuda yang dulunya dikenal sebagai preman jalanan.

Sudah sekitar satu dekade mengabdi sebagai anggota Polri, Brigpol Paesal memilih jalan berbeda. Ia tidak hanya menegakkan hukum, tetapi juga merangkul mereka yang pernah tersesat, memberi kesempatan kedua melalui keterampilan.

Di bengkel las miliknya yang diberi nama Juragan 86, Paesal mengajari para pemuda mengelas besi, membuat pagar, teralis, hingga berbagai perabot rumah tangga. Dari tempat sederhana berukuran sekitar 5x15 meter itulah, harapan baru mulai tumbuh.

“Saya lihat mereka sebenarnya punya kemauan, hanya belum ada yang mengarahkan,” ujarnya.

Awalnya hanya segelintir pemuda yang datang. Namun seiring waktu, jumlahnya bertambah. Mereka yang dulu akrab dengan minuman keras dan keributan, kini sibuk bekerja, menghasilkan uang, dan membantu keluarga.

Penghasilan yang didapat dibagi bersama dari setiap pesanan. Meski sederhana, dampaknya nyata. Kehidupan ekonomi mereka mulai membaik, dan yang terpenting, perilaku mereka berubah.

Salah satu kisah paling menyentuh datang dari seorang mantan tersangka pencurian—yang justru pernah ditangani langsung oleh Paesal. Saat itu, pria tersebut mencuri demi biaya pengobatan anaknya yang sakit.

Kasus tersebut berakhir melalui pendekatan restorative justice. Namun bagi Paesal, itu bukan akhir, melainkan awal perubahan. Ia mengajak pria itu belajar mengelas hingga akhirnya mampu mandiri.

“Dia tidak tahu harus kerja apa, jadi saya ajak belajar,” katanya.

Kini, bengkel itu bukan hanya tempat bekerja, tetapi juga ruang pembinaan. Bahkan, untuk menjangkau lebih banyak pemuda, Paesal mengembangkan usaha dengan membuka tempat cuci motor.

Tak berhenti di situ, sejak 2019 ia juga aktif melakukan kegiatan sosial. Hampir setiap akhir pekan, ia menyalurkan bantuan sembako kepada anak yatim, panti asuhan, janda, hingga para pemulung—tanpa memandang latar belakang.

Bagi Paesal, hidup bukan tentang kemewahan, melainkan kebermanfaatan.

“Tidak ada artinya kita hidup berkecukupan kalau di sekitar masih banyak yang kesusahan,” ungkapnya.

Kini, lingkungan yang dulu kerap diwarnai keributan berubah menjadi lebih aman dan kondusif. Semua berawal dari langkah kecil di sebuah bengkel sederhana.

Kisah Brigpol Paesal membuktikan, perubahan besar bisa dimulai dari hal sederhana—asal ada kepedulian dan kemauan untuk bertindak.