Di Antara Dua Massa yang Nyaris Bentrok, Polisi Berlutut Demi Mencegah Pertumpahan Darah

Di Antara Dua Massa yang Nyaris Bentrok, Polisi Berlutut Demi Mencegah Pertumpahan Darah

Manggarai – Pagi yang seharusnya berjalan biasa di Desa Bula, Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, Senin (16/3/2026), mendadak berubah tegang. Jalan Trans Flores yang menghubungkan Ruteng dan Labuan Bajo dipenuhi ratusan warga dari dua kelompok berbeda yang nyaris terlibat perang tanding.

Dua kelompok warga, yakni dari Gendang Kaca dan Gendang Bung Leko, sudah saling berhadapan di badan jalan. Ketegangan itu bahkan sempat terekam dalam sebuah video yang kemudian viral di media sosial melalui akun Facebook @Hendrik Ilo.

Dalam rekaman tersebut terlihat kedua kubu telah bersiap dengan berbagai senjata tradisional. Beberapa warga membawa parang, tongkat panjang yang diduga tombak, hingga batu. Mereka mengenakan pakaian sehari-hari yang dipadukan dengan atribut adat Manggarai seperti ikat kepala kain dan peci khas daerah setempat.

Situasi semakin mencekam ketika massa dari kedua kelompok sudah berada dalam jarak yang sangat dekat dan siap saling serang. Jalan utama yang biasanya dilalui kendaraan antarwilayah itu pun seketika berubah menjadi titik rawan konflik.

Namun di tengah situasi yang nyaris berubah menjadi bentrokan terbuka, kehadiran aparat kepolisian dari Polres Manggarai menjadi penentu. Para anggota polisi segera turun tangan untuk memisahkan kedua kelompok dan mencegah pertumpahan darah.

Salah satu momen yang paling menyentuh dalam video tersebut adalah ketika seorang anggota polisi terlihat berlutut di atas aspal di antara dua kelompok warga yang sedang memanas. Dengan kedua tangan terkatup, ia memohon kepada massa agar menahan diri dan tidak melakukan kekerasan.

Sementara itu, anggota polisi lainnya terus memberikan imbauan kepada warga agar mundur dan tidak terpancing emosi. Pendekatan persuasif dan dialogis terus dilakukan untuk meredakan ketegangan yang sudah berada di titik kritis.

Upaya tersebut akhirnya membuahkan hasil. Perlahan, warga dari kedua belah pihak mulai menahan diri dan situasi yang sebelumnya sangat tegang berhasil dikendalikan tanpa terjadi bentrokan.

Kehadiran polisi di tengah situasi tersebut tidak hanya menunjukkan fungsi penegakan hukum, tetapi juga memperlihatkan sisi kemanusiaan dalam menjaga stabilitas sosial masyarakat.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda NTT, Kombes Pol. Henry Novika Chandra, S.I.K., M.H mengatakan bahwa Polri selalu mengedepankan pendekatan persuasif dan humanis dalam menangani potensi konflik di masyarakat.

Menurutnya, kehadiran aparat kepolisian di lokasi kejadian semata-mata untuk menjaga keamanan dan melindungi seluruh masyarakat tanpa berpihak kepada kelompok mana pun.

“Dalam situasi yang berpotensi konflik, anggota kami di lapangan selalu mengedepankan pendekatan dialog dan kemanusiaan. Tujuannya adalah mencegah terjadinya kekerasan dan memastikan keselamatan masyarakat tetap menjadi prioritas utama,” ujar Kabidhumas Polda NTT 

Ia juga menambahkan bahwa pihak kepolisian telah memberikan imbauan kepada seluruh warga agar tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang dapat memicu konflik serta mengajak semua pihak untuk menjaga persaudaraan dan kedamaian di wilayah Manggarai.

Peristiwa di Desa Bula menjadi pengingat bahwa di balik seragam yang dikenakan, polisi tidak hanya hadir sebagai aparat penegak hukum, tetapi juga sebagai penjaga kedamaian yang berupaya meredam konflik dengan hati nurani.

Di tengah situasi yang nyaris berujung chaos, pendekatan humanis yang ditunjukkan aparat kepolisian menjadi bukti bahwa penyelesaian konflik tidak selalu harus dilakukan dengan kekuatan, tetapi bisa dimulai dari keberanian untuk mengulurkan tangan demi perdamaian.