80 Tahun Polri untuk Masyarakat, Ketika Seorang Kapolsek Mengembalikan Mimpi Viki ke Bangku Sekolah

80 Tahun Polri untuk Masyarakat, Ketika Seorang Kapolsek Mengembalikan Mimpi Viki ke Bangku Sekolah

Labuan Bajo, Rabu (1/7/2026) – Di sebuah rumah sederhana di pelosok Manggarai Barat, tangis seorang anak pecah pada pertengahan 2024 silam. Bukan karena jatuh saat bermain atau dimarahi orang tua, melainkan karena sebuah kenyataan pahit yang sulit diterima anak seusianya.

Namanya Vikianus Jemadu, saat itu baru berusia 12 tahun. Ia baru saja menamatkan pendidikan sekolah dasar. Ketika teman-teman sebayanya bersiap mengenakan seragam putih-biru, Viki justru harus mengubur impiannya melanjutkan sekolah.

Kemiskinan memaksanya berhenti.

Ayahnya, Alfonsius Jemadu (45), seorang buruh tani dengan penghasilan yang tak menentu, hanya bisa menundukkan kepala saat putranya menangis meminta kesempatan untuk terus belajar.

"Kami tidak mampu. Kakaknya dua orang juga masih sekolah SMA dan harus kami biayai," ucap Alfonsius lirih.

Sejak saat itu, Viki mengganti buku pelajaran dengan karung bekas. Hampir setiap hari ia berjalan menyusuri jalan-jalan desa mencari besi tua yang bisa dijual. Uang hasil penjualan rongsokan itu sebagian besar diserahkan kepada ibunya agar dapur keluarga tetap mengepul.

Namun, di balik kerja kerasnya, Viki tak pernah benar-benar melepaskan mimpinya. Ia masih ingin kembali ke sekolah. Ia juga ingin mengejar hobinya bermain sepak bola. Sayangnya, kedua impian itu terasa terlalu mahal bagi keluarganya.

Segalanya berubah karena sebuah panggilan dari kantor polisi.

Suatu hari, seseorang meminta Alfonsius datang ke Polsek Lembor bersama putranya untuk bertemu Kapolsek, IPDA Vinsensius Hardi Bagus, S.I.P.

Pertemuan singkat itu menjadi titik balik kehidupan Viki.

"Beliau bertanya apakah Viki masih mau sekolah. Saya jawab, iya, sangat mau," kenang Alfonsius.

Tanpa banyak pertimbangan, IPDA Vinsensius Hardi Bagus bersama sang istri, Flaviana Odety, memutuskan mengambil tanggung jawab yang mungkin tidak semua orang berani lakukan.

Mereka membiayai pendidikan Viki.

Bukan hanya membantu mendaftarkan ke sekolah, tetapi juga memastikan seluruh kebutuhan pendidikannya terpenuhi.

Saat ditemui di sela peringatan Hari Bhayangkara ke-80 di Polres Manggarai Barat, IPDA Vinsensius mengatakan keputusan itu lahir dari empati sebagai sesama manusia.

"Ketika melihat ada anak yang masih memiliki semangat belajar, tetapi terhalang kondisi ekonomi, hati kami tergerak. Selama kami masih mampu membantu, kami akan membantu," ujarnya.

Perjalanan Viki kembali ke bangku sekolah bukan tanpa tantangan.

Awalnya ia bersekolah di SMP Negeri 4 Welak. Karena jaraknya cukup jauh dari Polsek Lembor, ia sempat tinggal di rumah salah seorang anggota Bhabinkamtibmas. Setelah naik ke kelas VIII, Viki kemudian dipindahkan ke SMP Negeri 1 Lembor dan tinggal bersama keluarga Kapolsek.

Di rumah dinas itulah kehidupan Viki perlahan berubah.

Ia tidak hanya memperoleh tempat tinggal dan biaya pendidikan, tetapi juga kasih sayang layaknya seorang anak sendiri.

Flaviana Odety mengaku, pada awalnya Viki masih pemalu dan lebih sering menggunakan bahasa daerah dalam berkomunikasi.

"Kami membiasakan dia berbicara menggunakan Bahasa Indonesia, mendampingi belajar, mengajarkan disiplin, kejujuran, serta tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari," tuturnya.

Perubahan itu kini mulai terlihat.

Viki tumbuh menjadi remaja yang lebih percaya diri, rajin bersekolah, disiplin, dan sopan. Ia juga tetap bisa menyalurkan hobinya bermain sepak bola setelah IPDA Vinsensius membelikannya perlengkapan olahraga agar dapat mengikuti berbagai turnamen antarsekolah.

Bagi keluarga kecil itu, Viki bukan lagi sekadar anak yang mereka bantu.

Ia telah menjadi bagian dari keluarga.

Kedekatan itu bahkan membuat Viki memiliki satu harapan sederhana.

Apabila suatu saat nanti IPDA Vinsensius dipindahtugaskan, ia ingin tetap ikut bersama keluarga yang telah mengubah jalan hidupnya.

"Kalau orang tuanya mengizinkan, kami siap mendampingi dan membiayai pendidikannya hingga jenjang berikutnya," kata Flaviana penuh haru.

Kisah Viki menjadi bukti bahwa tugas seorang anggota Polri tidak selalu hadir dalam bentuk penegakan hukum atau menjaga keamanan.

Terkadang, pengabdian lahir dari sebuah uluran tangan, kepedulian, dan keberanian untuk mengubah masa depan seseorang.

Di usia ke-80 pengabdiannya kepada bangsa, Polri kembali menunjukkan bahwa menjadi pelindung dan pengayom masyarakat juga berarti hadir ketika harapan hampir padam.

Bagi Vikianus Jemadu, seorang Kapolsek bukan hanya menghadirkan kesempatan untuk kembali bersekolah.

Ia telah menghadirkan masa depan.

#NttPenuhKasih