Aksi Heroik Polisi Jadi Jembatan Hidup bagi Pelajar di Arus Deras Manggarai Barat

Aksi Heroik Polisi Jadi Jembatan Hidup bagi Pelajar di Arus Deras Manggarai Barat

Labuan Bajo — Deru deras Sungai Wae Songka pagi itu terdengar lebih mengancam dari biasanya. Curah hujan yang tinggi di wilayah Manggarai Barat membuat aliran sungai yang memisahkan Kampung Lesem dan Desa Golo Riwu berubah menjadi arus jeram berbahaya. Namun, bagi puluhan pelajar, sungai itu tetap harus diseberangi demi meraih pendidikan.

Pemandangan mengharukan terjadi pada Rabu (28/1/2026) pagi, ketika sejumlah personel Polsek Kuwus, Polres Manggarai Barat, Polda NTT turun langsung ke tengah sungai. Dengan air setinggi lutut dan arus yang kuat, para polisi menggendong satu per satu siswa berseragam Pramuka di atas pundak mereka, memastikan anak-anak tersebut dapat menyeberang dengan selamat menuju sekolah.

Kapolres Manggarai Barat AKBP Christian Kadang, S.I.K. mengatakan, aksi tersebut merupakan bentuk kepedulian Polri terhadap keselamatan dan masa depan generasi muda, khususnya di wilayah dengan keterbatasan infrastruktur.

“Keselamatan anak-anak adalah prioritas utama. Ketika melihat kondisi sungai yang berbahaya, anggota kami tidak ragu turun langsung membantu. Ini adalah tugas kemanusiaan dan wujud nyata kehadiran Polri di tengah masyarakat,” ujar AKBP Christian Kadang.

Ia menjelaskan, setiap hari 11 siswa SD dan 10 siswa SMP dari Kampung Lesem, Desa Golo Lajang, Kecamatan Pacar, harus menyeberangi sungai selebar 15 hingga 20 meter tersebut untuk menuju SDK Wetik dan SMPN 1 Kuwus Barat. Saat hujan turun di hulu, debit air dapat meningkat secara tiba-tiba dan sangat membahayakan.

“Anak-anak ini bertaruh nyawa setiap kali berangkat dan pulang sekolah. Melihat kondisi itu, kami tidak bisa tinggal diam,” tambahnya.

Polisi Bangun Harapan Lewat Jembatan Darurat

Tak hanya membantu menyeberangkan siswa, Polsek Kuwus juga mengambil langkah proaktif dengan merencanakan pembangunan jembatan darurat sebagai solusi sementara. Jembatan tersebut akan menghubungkan Kampung Lesem, Desa Golo Lajang, Kecamatan Pacar, dengan Desa Golo Riwu, Kecamatan Kuwus Barat.

Menurut Kapolres, rencana pembangunan jembatan darurat ini lahir dari aspirasi masyarakat, guru, dan orang tua siswa yang setiap hari diliputi kekhawatiran saat musim hujan tiba.

“Pembangunan jembatan darurat ini akan dilakukan secara gotong royong bersama masyarakat setempat, menggunakan material lokal seperti bambu, kayu, pasir, dan batu. Ini solusi jangka pendek agar aktivitas pendidikan dan warga tidak terputus,” jelas AKBP Christian Kadang.

Simbol Hadirnya Negara

Bagi warga Kampung Lesem, kehadiran polisi di tengah sungai bukan sekadar bantuan fisik, melainkan simbol hadirnya negara di saat masyarakat menghadapi kesulitan. Selama jembatan permanen belum terwujud, pundak para polisi menjadi “jembatan hidup” yang menghubungkan anak-anak dengan masa depan mereka.

“Dalam semangat Polri untuk masyarakat, kami akan berupaya semaksimal mungkin agar jembatan harapan ini bisa segera terwujud dan dimanfaatkan oleh generasi penerus bangsa,” pungkas Kapolres.

Aksi kemanusiaan ini menjadi bukti bahwa di tengah keterbatasan, kepedulian dan gotong royong mampu menjadi jembatan harapan—agar mimpi anak-anak Manggarai Barat tidak hanyut terbawa derasnya arus sungai.