“Anak-Anak NTT Harus Sehat dan Bebas Stunting” — Kapolda NTT Tegaskan SPPG Polri Hadir untuk Masa Depan Generasi NTT
KUPANG — Kapolda NTT Irjrn Pol Dr. Rudi Darmoko, S.I K., M Si menegaskan bahwa pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Polri di wilayah Nusa Tenggara Timur merupakan bentuk nyata kepedulian Polri terhadap masa depan generasi muda NTT agar tumbuh sehat, kuat, dan bebas stunting.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam paparan Launching Serentak 166 SPPG Polri yang digelar pada hari Jumat, (16/5/2026). Program ini menjadi bagian dari dukungan Polda NTT terhadap program prioritas nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan pemerintah pusat.
“Anak-anak NTT harus sehat, cerdas, dan terbebas dari stunting. Karena itu, Polri hadir bukan hanya menjaga keamanan, tetapi juga ikut memastikan masa depan generasi bangsa terjaga melalui pemenuhan gizi yang baik,” tegas Kapolda NTT.
Dalam paparannya, Kapolda menjelaskan bahwa wilayah NTT memiliki tantangan geografis yang kompleks serta angka stunting yang masih cukup tinggi, sehingga membutuhkan keterlibatan semua pihak, termasuk Polri, dalam mendukung program kesehatan masyarakat.
Saat ini, Polda NTT telah menyiapkan 22 titik SPPG yang tersebar di berbagai kabupaten dan kota di NTT. Sebanyak 16 titik berada dalam tahap pembangunan dan renovasi, tiga titik dalam tahap persiapan operasional, dan tiga lainnya telah beroperasi aktif melayani masyarakat.
Program tersebut menjangkau ribuan penerima manfaat dari kalangan pelajar, ibu hamil, hingga masyarakat rentan di berbagai daerah seperti Flores Timur, Alor, Sumba Barat, Manggarai Timur, Belu, TTU, Sikka, TTS, hingga Kota Kupang.
Kapolda NTT menekankan bahwa program ini tidak hanya fokus pada pembagian makanan bergizi, tetapi juga mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal melalui keterlibatan kelompok tani, nelayan, peternak, dan UMKM sebagai pemasok bahan pangan utama.
Berbagai bahan pangan lokal seperti jagung, ikan laut, telur, daun kelor, sayuran segar, ayam, hingga hasil pertanian masyarakat menjadi bagian dari menu MBG yang disesuaikan dengan kondisi wilayah masing-masing.
Selain itu, seluruh proses pengolahan makanan dilakukan dengan standar higienis tinggi dan pengawasan ketat dari Urusan Kesehatan Polri guna memastikan kualitas serta keamanan pangan sebelum disalurkan kepada penerima manfaat.
Kapolda NTT juga mengakui adanya sejumlah tantangan dalam pelaksanaan program, mulai dari keterbatasan infrastruktur jalan, tingginya biaya distribusi di wilayah kepulauan, hingga ketersediaan bahan baku dan gas LPG di beberapa daerah terpencil.
Namun demikian, Polda NTT terus melakukan evaluasi dan penguatan kerja sama dengan pemerintah daerah, vendor lokal, kelompok tani, dan pelaku UMKM agar program tetap berjalan optimal dan berkelanjutan.
“Melalui semangat Polda NTT Penuh Kasih, kami ingin memastikan kehadiran Polri benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Ini adalah investasi jangka panjang untuk masa depan anak-anak NTT dan kemajuan daerah,” pungkas Kapolda NTT.
#PoldaNttPenuhKasih
Humas Polda NTT
