Dari Penyampai Informasi Menjadi Sahabat Masyarakat, PT Ethos Kreatif Indonesia Paparkan Strategi Humas Modern
KUPANG — Perkembangan teknologi digital menuntut perubahan besar dalam pola komunikasi institusi kepolisian kepada masyarakat. Humas Polri kini tidak lagi hanya berfungsi sebagai penyampai informasi, tetapi juga harus mampu membangun hubungan emosional yang humanis dan responsif di ruang digital.
Hal tersebut disampaikan Stakeholder & Employee Relations Manager PT Ethos Kreatif Indonesia, Betania Gian R., saat menjadi narasumber dalam sesi materi dan diskusi Rakernis Bidang Humas Polda NTT Tahun Anggaran 2026 yang berlangsung di Hotel Sylvia Kupang, Selasa (19/5/2026).
Dalam pemaparannya bertajuk “Transformasi Humas Humanis di Era Digital”, Betania menegaskan bahwa konsep “Polda NTT Penuh Kasih” harus diwujudkan melalui komunikasi yang lebih dekat, cepat, santun, dan menyentuh sisi kemanusiaan masyarakat.
“Humas bukan sekadar penyampai informasi, tetapi harus menjadi jembatan emosional antara institusi Polri dan masyarakat,” ujarnya.
Menurut Betania, meningkatnya penggunaan internet dan media sosial di masyarakat membawa tantangan baru bagi institusi kepolisian. Di satu sisi akses informasi semakin mudah, namun di sisi lain penyebaran hoaks, penipuan digital, hingga disinformasi juga semakin tinggi.
Karena itu, Polri dinilai harus hadir bukan hanya sebagai penegak hukum, tetapi juga sebagai edukator digital yang mampu memberikan literasi kepada masyarakat.
“Polisi hari ini harus hadir di ruang digital masyarakat, mendengar, merespons, dan memberikan edukasi dengan pendekatan yang humanis,” jelasnya.
Dalam materinya, Betania memaparkan empat strategi utama transformasi digital humas untuk mendukung semangat “Polda NTT Penuh Kasih”.
Strategi pertama adalah Humanist Storytelling, yakni membangun komunikasi publik melalui cerita-cerita humanis dan inspiratif tentang anggota Polri di tengah masyarakat.
Menurutnya, masyarakat saat ini tidak lagi tertarik pada komunikasi formal yang kaku, tetapi lebih menyukai kisah nyata yang menyentuh emosi dan menghadirkan sisi kemanusiaan aparat kepolisian.
Ia mencontohkan kegiatan seperti polisi membantu masyarakat di pelosok desa, polisi mengajar di sekolah, hingga aksi sosial anggota Polri yang membantu warga sebagai bentuk konten humanis yang mampu membangun kepercayaan publik.
Strategi kedua adalah penggunaan framework konten L-V-R (Lifestyle, Value, dan Result).
Lifestyle berisi sisi humanis kehidupan anggota Polri, Value berisi edukasi dan literasi digital kepada masyarakat, sedangkan Result menampilkan transparansi hasil kerja kepolisian dalam pengungkapan kasus maupun pelayanan masyarakat.
“Konten yang baik harus mampu membangun kedekatan, memberikan edukasi, sekaligus memperlihatkan hasil nyata kerja kepolisian,” katanya.
Selain itu, Betania juga menyoroti pentingnya manajemen komunikasi dan respons cepat di media sosial.
Ia menegaskan bahwa setiap komentar maupun keluhan masyarakat di media sosial merupakan bentuk harapan kepada institusi Polri sehingga harus direspons secara cepat, santun, dan penuh empati.
“Hindari jawaban template yang kaku. Gunakan bahasa yang lebih personal dan humanis agar masyarakat merasa benar-benar dilayani,” ujarnya.
Dalam sesi diskusi, Betania juga mengingatkan pentingnya menjaga stabilitas ruang digital melalui penanganan cepat terhadap hoaks dan misinformasi yang berpotensi memicu konflik sosial maupun merusak citra institusi.
Menurutnya, humas harus aktif melakukan klarifikasi, edukasi, serta menghadirkan informasi yang benar dan terpercaya kepada masyarakat.
Selain materi transformasi humas humanis, Betania juga memaparkan materi tentang “Smart AI Integration untuk Produksi Konten Digital”.
Dalam sesi tersebut dijelaskan bahwa kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dapat dimanfaatkan untuk mendukung produksi konten digital yang lebih cepat, kreatif, dan efektif.
Ia memperkenalkan berbagai platform AI seperti ChatGPT dan Gemini untuk membantu penyusunan berita, Canva AI dan Midjourney untuk desain visual, serta ElevenLabs dan HeyGen untuk produksi audio maupun video digital.
“AI bukan pengganti kreativitas manusia, tetapi alat untuk mempercepat produktivitas dan memperkuat pelayanan informasi publik,” jelasnya.
Betania juga menekankan pentingnya penggunaan AI secara bijak dan bertanggung jawab, termasuk mengantisipasi ancaman deepfake, penyalahgunaan identitas digital, serta penyebaran informasi palsu di media sosial.
Menurutnya, transformasi digital humas harus tetap dibangun dengan prinsip etika, keamanan siber, dan perlindungan kepercayaan publik terhadap institusi kepolisian.
Kegiatan materi dan diskusi berlangsung interaktif dengan diikuti peserta Rakernis Humas dari seluruh jajaran Polda NTT yang aktif berdiskusi mengenai strategi penguatan komunikasi publik Polri di era digital saat ini.
#PoldaNttPenuhKasih
Humas Polda NTT
