Dari Sedekah Personel Polri untuk Masjid Attaqwa, Kapolda NTT Bawa Harapan Pemulihan Pascagempa
ENDE — Di tengah jejak kerusakan yang masih terlihat setelah gempa bumi mengguncang Pulau Flores, sebuah bentuk kepedulian hadir dari tempat yang mungkin tidak disangka. Bukan hanya tenaga dan bantuan logistik, tetapi juga sedekah yang dikumpulkan dari personel Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Timur (Polda NTT) untuk membantu memulihkan rumah ibadah yang terdampak bencana.
Kepedulian itu terlihat saat Kapolda NTT Irjen Pol. Dr. Rudi Darmoko, S.I.K., M.Si., bersama sejumlah pejabat utama Polda NTT dan Bhayangkari mengunjungi Masjid Attaqwa di kawasan Watumbawu, Kelurahan Lokoboko, Kecamatan Ndona, Kabupaten Ende, Jumat (28/8/2026).
Masjid yang menjadi tempat masyarakat beribadah tersebut mengalami kerusakan pada sejumlah bagian bangunan akibat guncangan gempa yang terjadi pada 15 Agustus 2026.
Di hadapan pengurus dan jemaah, Kapolda NTT menyerahkan bantuan sosial sekaligus bantuan dana sebesar Rp100 juta untuk mendukung proses renovasi Masjid Attaqwa.
Yang membuat bantuan tersebut terasa berbeda, dana itu bukan sekadar bantuan institusi. Bantuan tersebut berasal dari kepedulian dan donasi atau sedekah yang dihimpun dari personel Polda NTT, baik yang beragama Muslim maupun non-Muslim.
Semangatnya sederhana: ketika bencana datang, yang dibutuhkan bukan sekat perbedaan, melainkan tangan-tangan yang saling menguatkan.
Kapolda NTT mengatakan, jajaran Polda NTT telah bergerak sejak awal gempa untuk membantu masyarakat di berbagai wilayah terdampak.
“Sejak gempa pertama terjadi pada 15 Agustus, kami bersama unsur Forkopimda langsung turun ke lapangan. Kurang dari lima jam setelah kejadian, tim sudah tiba di Maumere menggunakan pesawat dinas Mabes Polri untuk menyalurkan bantuan awal dan memantau kondisi warga,” ujar Irjen Pol. Rudi Darmoko.
Menurut Kapolda, penanganan pascabencana dilakukan secara menyeluruh di tujuh kabupaten terdampak, yakni Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, Nagekeo, Ende, dan Sikka.
Medan yang sulit juga tidak menjadi alasan untuk menghentikan distribusi bantuan. Polda NTT mengerahkan berbagai sarana, termasuk kapal laut dan helikopter, untuk menjangkau masyarakat di wilayah yang sulit ditempuh melalui jalur darat.
Bantuan tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pangan dan kesehatan masyarakat. Pemulihan tempat-tempat ibadah juga menjadi bagian dari perhatian kepolisian karena rumah ibadah merupakan ruang penting bagi masyarakat untuk mendapatkan ketenangan dan kembali membangun kekuatan setelah bencana.
“Bantuan ini merupakan wujud kebersamaan dan kepedulian seluruh anggota Polda NTT. Kita harus tetap optimis dan mengambil hikmah positif dari setiap ujian. Semoga bantuan ini membantu mempercepat pemulihan dan masyarakat Ende dapat segera beraktivitas kembali dengan normal,” kata Kapolda.
Polri Hadir Tanpa Sekat
Kepedulian Polda NTT terhadap Masjid Attaqwa tidak berdiri sendiri.
Kapolda memastikan jajaran kepolisian juga membantu pemulihan rumah-rumah ibadah lain yang terdampak gempa, tanpa membedakan latar belakang agama maupun kelompok masyarakat.
Gereja, masjid, pura, maupun tempat ibadah lainnya yang mengalami kerusakan menjadi bagian dari perhatian dalam proses pemulihan pascabencana.
Personel kepolisian juga disiapkan untuk membantu membersihkan puing-puing serta melakukan gotong royong bersama masyarakat agar fasilitas yang terdampak dapat kembali digunakan secara aman.
Bagi Polri, pemulihan pascabencana bukan hanya tentang membangun kembali bangunan yang rusak. Lebih dari itu, pemulihan juga berarti mengembalikan rasa aman, ketenangan, dan harapan masyarakat.
Hal itu pula yang terasa dalam kunjungan Kapolda NTT ke Masjid Attaqwa.
Kedatangan rombongan disambut sukacita oleh imam masjid dan para jemaah. Di tengah kondisi bangunan yang masih membutuhkan perbaikan, kehadiran Kapolda menjadi pesan bahwa masyarakat tidak menghadapi masa sulit itu seorang diri.
“Alhamdulillah, kami atas nama jemaah sekalian menyampaikan banyak terima kasih kepada Bapak Kapolda dan tim yang telah berkunjung ke masjid kami di Watumbawu, Kelurahan Lokoboko. Kehadiran Bapak Kapolda serta buah tangan yang dibawa tentu sangat berkesan bagi kami,” ujar Imam Masjid Attaqwa.
Ia menjelaskan, Masjid Attaqwa memiliki peran penting bagi masyarakat setempat karena menjadi tempat pelaksanaan salat Jumat bagi jemaah dari dua kampung, yakni Watumbawu dan Sokomaki.
“Masjid Attaqwa ini menjadi tempat pelaksanaan salat Jumat bagi jemaah dari dua kampung, yaitu Kampung Watumbawu dan Kampung Sokomaki. Sementara untuk salat lima waktu harian, jemaah melaksanakannya di masjid dan musala masing-masing,” jelasnya.
Dari Masjid, Semangat Bangkit Kembali
Gempa mungkin meninggalkan retakan pada dinding dan kerusakan pada bangunan. Namun, bencana tidak seharusnya meretakkan persaudaraan.
Dari Masjid Attaqwa, pesan itu kembali ditegaskan.
Bantuan Rp100 juta yang diserahkan Kapolda NTT bukan hanya memiliki nilai material untuk membantu renovasi. Di balik bantuan tersebut terdapat semangat gotong royong personel Polda NTT yang bersama-sama menyisihkan sebagian kepedulian mereka untuk masyarakat terdampak bencana.
Ada personel yang Muslim, ada pula yang non-Muslim. Namun ketika masyarakat membutuhkan pertolongan, semuanya bergerak dalam satu semangat kemanusiaan.
Bagi warga Ende, dukungan tersebut diharapkan menjadi salah satu energi untuk mempercepat pemulihan, termasuk mengembalikan aktivitas keagamaan yang sempat terganggu akibat kerusakan bangunan.
Sementara bagi Polri, kehadiran di tengah masyarakat menjadi bagian dari pengabdian yang tidak berhenti pada tugas menjaga keamanan.
Sebab ketika masyarakat sedang berusaha bangkit, negara harus hadir. Ketika rumah ibadah rusak, kepedulian harus bergerak. Dan ketika warga mulai kehilangan rasa aman akibat bencana, kehadiran dan gotong royong dapat menjadi kekuatan untuk menumbuhkan kembali harapan.
Dari Watumbawu, semangat itu terus dirawat: berbeda dalam keyakinan, tetapi tetap satu dalam kemanusiaan.
NTT Penuh Kasih, Polri untuk Masyarakat.
Humas Polda NTT
