Dari Tenda Pengungsian hingga Reruntuhan, Polri Terus Hadir Dampingi Warga Terdampak Gempa Flores

Dari Tenda Pengungsian hingga Reruntuhan, Polri Terus Hadir Dampingi Warga Terdampak Gempa Flores

KUPANG — Gempa bumi yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur tidak hanya meninggalkan kerusakan pada bangunan, tetapi juga memaksa ribuan keluarga meninggalkan rumah dan menjalani hari-hari di tenda pengungsian.

Di tengah situasi tersebut, Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) terus memperkuat kehadirannya di wilayah terdampak. Personel tidak hanya menjalankan tugas pengamanan, tetapi ikut turun langsung membantu warga memenuhi kebutuhan dasar, menyelamatkan barang milik masyarakat, memberikan pelayanan kesehatan hingga mendampingi anak-anak penyintas menghadapi trauma pascabencana.

Berdasarkan laporan penanganan gempa Polda NTT per Jumat (28/8/2026) pukul 15.00 WITA, tercatat 147.252 jiwa masih berada di lokasi pengungsian yang tersebar pada 2.539 titik di tujuh kabupaten terdampak.

Data tersebut menunjukkan besarnya tantangan yang masih harus dihadapi dalam masa tanggap darurat. Selain pengungsi, tercatat 109 orang meninggal dunia, 284 orang mengalami luka berat, serta 777 orang mengalami luka ringan hingga sedang.

Kabupaten Ngada mencatat jumlah pengungsi terbesar dengan 50.556 jiwa, disusul Manggarai Timur sebanyak 31.372 jiwa, Ende 27.564 jiwa, Manggarai 24.126 jiwa, Nagekeo 7.557 jiwa, Manggarai Barat 1.720 jiwa, dan Sikka 4.357 jiwa.

Di tengah besarnya angka tersebut, ribuan personel Polri dikerahkan untuk memastikan pelayanan kepada masyarakat terus berjalan.

Secara keseluruhan, 2.796 personel Polri ditempatkan di wilayah terdampak, termasuk personel Polres jajaran, BKO Brimob, tenaga kesehatan, konselor trauma healing, personel Polairud hingga unsur pendukung lainnya.

Kapolda NTT Irjen Pol. Dr. Rudi Darmoko, S.I.K., M.Si., melalui Kabidhumas Polda NTT Kombes Pol. Henry Novika Chandra, S.I.K., M.H., menegaskan bahwa penanganan bencana dilakukan dengan mengedepankan keselamatan dan kebutuhan masyarakat.

“Polri hadir tidak hanya untuk menjaga keamanan, tetapi juga memastikan masyarakat terdampak mendapatkan pelayanan dan bantuan sesuai kebutuhan di lapangan. Setiap personel diarahkan untuk bekerja bersama masyarakat dan membantu proses pemulihan,” ujar Kombes Pol. Henry Novika Chandra.

Dari Tenda hingga Reruntuhan

Kehadiran personel Polri terlihat dalam berbagai bentuk pelayanan kemanusiaan.

Di Kampung Maki, Desa Satar Kampas, Kecamatan Lamba Leda Utara, Manggarai Timur, personel Subsatgas Samapta membantu memasang tenda bagi warga di posko pengungsian mandiri.

Tidak berhenti di sana. Personel juga turun langsung ke lokasi reruntuhan untuk menyelamatkan padi milik warga yang tertimbun serta mengamankan material bangunan seperti seng dan kayu yang masih dapat digunakan kembali.

Bagi warga yang kehilangan sebagian besar harta benda akibat gempa, bantuan sederhana tersebut memiliki arti besar. Barang yang berhasil diselamatkan bukan sekadar material, tetapi bagian dari kehidupan mereka yang masih bisa dipertahankan.

Polri juga memperkuat pelayanan kesehatan. Satgas Dokes melakukan kunjungan ke sejumlah lokasi pengungsian di Lamba Leda Utara, Reo Manggarai, dan Aesesa Nagekeo.

Pemeriksaan tanda-tanda vital, pemberian vitamin dan obat-obatan hingga rujukan bagi warga dengan kondisi luka berat dilakukan untuk memastikan kesehatan para penyintas tetap terpantau.

Memulihkan Senyum Anak-Anak

Di tengah kebutuhan fisik, pemulihan psikologis juga menjadi perhatian.

Sebanyak 15 konselor Polres Manggarai melaksanakan trauma healing bagi anak-anak penyintas di Posko SDI Konggang, Kelurahan Waso, Kecamatan Langke Rembong, Manggarai.

Anak-anak diajak mengikuti kegiatan edukatif dan rekreatif dalam suasana ceria dan interaktif. Permainan dan aktivitas bersama menjadi ruang bagi mereka untuk kembali tersenyum, berinteraksi dan membangun rasa percaya diri setelah mengalami situasi yang menakutkan akibat gempa.

Menurut Kombes Pol. Henry, pemulihan pascabencana tidak hanya berbicara mengenai pembangunan kembali rumah dan fasilitas umum, tetapi juga mengenai pemulihan kondisi psikologis masyarakat.

“Trauma masyarakat, terutama anak-anak, juga harus mendapat perhatian. Karena itu, pendampingan psikologis menjadi bagian dari pelayanan Polri agar para penyintas perlahan dapat mengatasi rasa takut dan kembali menjalani aktivitas secara normal,” jelasnya.

Ratusan Ton Bantuan Terus Bergerak

Di sisi lain, distribusi bantuan kemanusiaan terus dilakukan ke berbagai wilayah terdampak.

Data Polda NTT mencatat, sejak 15 hingga 27 Agustus 2026, bantuan kemanusiaan yang diterima dan terdata mencapai sekitar 297,9 ton.

Bantuan tersebut berasal dari Mabes Polri, Polda jajaran, jajaran Polda NTT serta berbagai unsur internal Polri.

Sebanyak 93,01 ton berasal dari Mabes Polri, 171,76 ton dari Polda jajaran, sementara jajaran Polda NTT menyumbang sekitar 33,14 ton.

Distribusi dilakukan dengan menyesuaikan kondisi medan. Jalur darat, laut maupun udara dimanfaatkan untuk menjangkau masyarakat, termasuk wilayah yang sulit ditembus akibat kerusakan infrastruktur.

Untuk mendukung pelayanan tersebut, Polda NTT juga menyiagakan 20 posko Polri, sembilan posko kesehatan dan sembilan posko trauma healing yang tersebar di tujuh wilayah terdampak.

“Tidak boleh ada masyarakat yang merasa sendirian menghadapi bencana. Kami terus memonitor perkembangan di lapangan dan berupaya memastikan bantuan, pelayanan kesehatan, pengamanan maupun pendampingan psikologis menjangkau masyarakat yang membutuhkan,” kata Kombes Pol. Henry.

Polri dan Masyarakat Bangkit Bersama

Bencana memang meninggalkan luka dan kerusakan. Namun di tengah keterbatasan, semangat untuk saling membantu terus tumbuh.

Personel Polri yang memasang tenda, mengangkat material dari reruntuhan, memeriksa kesehatan warga, mendampingi anak-anak bermain hingga mendistribusikan bantuan menjadi bagian dari cerita panjang pemulihan Flores.

Kapolda NTT, melalui Kabidhumas, juga mengajak masyarakat untuk tetap menjaga kebersamaan, mengikuti arahan petugas di lapangan, serta segera melaporkan apabila masih terdapat warga atau lokasi pengungsian yang membutuhkan bantuan.

“Semangat kita adalah bersama-sama melewati masa sulit ini. Polri akan terus hadir, bekerja dan bergerak bersama masyarakat sampai proses pemulihan berjalan semakin baik,” pungkas Kombes Pol. Henry.

Di tengah tanah yang masih menyimpan jejak guncangan, tenda-tenda pengungsian menjadi saksi bahwa kepedulian tidak pernah berhenti.

Polri hadir bukan hanya dengan seragam dan kewenangan, tetapi dengan tangan yang membantu, telinga yang mendengar dan langkah yang terus bergerak.

Polri untuk Masyarakat. NTT Penuh Kasih.

#NttPenuhKasih