Polri Kerahkan Personel Tangani Dampak Gempa Manggarai, 23 Orang Meninggal Dunia dan 351 Fasilitas Terdampak

Polri Kerahkan Personel Tangani Dampak Gempa Manggarai, 23 Orang Meninggal Dunia dan 351 Fasilitas Terdampak

RUTENG, NTT — Dampak gempa bumi yang melanda wilayah Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), terus diperbarui oleh tim gabungan yang melakukan pendataan dan penanganan di sejumlah lokasi terdampak. Hingga Minggu malam pukul 21.00 WITA, tercatat 23 orang meninggal dunia, sementara ratusan fasilitas pemerintah, pendidikan, umum, tempat ibadah, dan rumah masyarakat mengalami kerusakan.

Kapolda NTT Irjen Pol Dr. Rudi Darmoko, S.I.K., M.Si., melalui Kabidhumas Polda NTT Kombes Pol Henry Novika Chandra, S.I.K., M.H., menyampaikan duka cita yang mendalam kepada seluruh keluarga korban dan masyarakat Kabupaten Manggarai yang terdampak bencana.

“Atas nama pimpinan dan seluruh jajaran Polda NTT, kami menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada keluarga korban yang meninggal dunia. Kami turut merasakan duka yang dialami masyarakat Manggarai. Saat ini seluruh unsur terkait terus bergerak melakukan evakuasi, pendataan, pelayanan kepada korban serta memastikan situasi keamanan dan ketertiban masyarakat tetap terjaga,” ujar Kombes Pol Henry Novika Chandra menyampaikan pesan Kapolda NTT.

Berdasarkan pembaruan data hingga pukul 21.00 WITA, korban meninggal dunia tersebar di sejumlah wilayah. Di RSUD Ruteng tercatat tiga korban meninggal dunia, yakni Romanus Tangkang, Yohana Madi, dan Herlina Matildis Bire.

Sementara di Kecamatan Langke Rembong terdapat dua korban meninggal dunia, yakni Agustinus Magul dan Stevanus Jedaut.

Di Kecamatan Reok, jumlah korban meninggal dunia bertambah dari sebelumnya 10 orang menjadi 12 orang. Mereka adalah Resny, Faisal, Habibi, Ruslin Ahmad, Hamide, Asia, Stefano Bernadito, Supriadin, Hendrikis Gampur, Yurnimia Yuldis, Heliana Plate, dan Yustina Rominceana Mbawo.

Di Kecamatan Reok Barat tercatat empat korban meninggal dunia, yakni Mustamin, Rinto Harahap, Bunga Sari, dan Bibeng. Sementara di Kecamatan Cibal terdapat satu korban meninggal dunia atas nama Fabianus Efika Jas, sedangkan di Kecamatan Cibal Barat terdapat satu korban meninggal dunia atas nama Kristina Sri Murti.

Dengan demikian, jumlah sementara korban meninggal dunia mencapai 23 orang. Pihak kepolisian menegaskan bahwa angka tersebut masih bersifat sementara karena laporan dari lapangan terus diterima dan proses pendataan masih berlangsung.

“Kami meminta masyarakat untuk tetap tenang dan tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum dapat dipastikan kebenarannya. Data korban maupun kerusakan masih terus diverifikasi oleh petugas di lapangan. Perkembangan akan disampaikan secara berkala berdasarkan hasil pendataan dan informasi resmi dari Posko Bencana,” jelas Kabidhumas Polda NTT.

Selain menimbulkan korban jiwa, gempa juga berdampak terhadap berbagai fasilitas. Rekapitulasi sementara mencatat 351 fasilitas mengalami kerusakan, yang terdiri dari fasilitas pemerintah, pendidikan, fasilitas umum, tempat ibadah, serta fasilitas milik masyarakat.

Pada sektor fasilitas pemerintah, terdapat sembilan fasilitas terdampak. Tujuh di antaranya mengalami rusak berat, yakni Kantor Bupati Manggarai, Kantor Dukcapil, Kantor Inspektorat, RSUD Ruteng, Dinas Koperasi UKM dan Naketrans, Puskesmas Reo, serta Kantor Los Uji Kir. Kantor Sekretariat DPRD mengalami rusak sedang, sedangkan Bangunan Tourist Information Center mengalami rusak ringan.

Untuk fasilitas pendidikan, dua bangunan dilaporkan mengalami rusak berat, yaitu Kampus Unika St. Paulus Ruteng dan SMA Budi Luhur Cancar.

Dampak juga terjadi pada tujuh fasilitas umum. Lima fasilitas mengalami rusak berat, yakni SPBU Carep, Kantor Bank NTT, ruas jalan Iteng–Rego, Terminal Reo, dan RS St. Rafael Cancar. Sementara Terminal Karot serta SPPG Nao di Kecamatan Satar Mese Utara mengalami rusak ringan.

Pada sektor tempat ibadah, tercatat tiga fasilitas terdampak. Gereja Paroki Fransiskus Asisi Karot dan Kapela Novisiat SMM mengalami rusak berat, sedangkan Gereja Paroki Roh Kudus Rua mengalami rusak sedang.

Kerusakan paling banyak terjadi pada fasilitas masyarakat dengan jumlah 330 fasilitas. Dari jumlah tersebut, sebanyak 290 fasilitas mengalami rusak berat, delapan fasilitas rusak sedang, dan 32 fasilitas mengalami rusak ringan.

Di tengah kondisi tersebut, pemerintah bersama TNI, Polri, Basarnas dan unsur terkait telah mendirikan sejumlah posko untuk memastikan kebutuhan masyarakat terdampak dapat ditangani. Saat ini terdapat empat posko yang beroperasi di wilayah Kabupaten Manggarai.

Posko Induk berada di Kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Kelurahan Watu, Kecamatan Langke Rembong. Untuk sementara belum terdapat pengungsi di posko tersebut.

Posko Kecamatan Cibal berada di Kantor Camat Cibal, Kelurahan Pagal, dengan jumlah pengungsi sebanyak 80 jiwa. Posko Kecamatan Reok berada di Lapangan Barangkolong, Kelurahan Mata Air, dengan jumlah pengungsi mencapai 1.330 jiwa. Sementara Posko Golo Conggo yang berada di Desa Ruis, Kecamatan Reok, menampung 582 jiwa.

Dengan demikian, berdasarkan data sementara, sedikitnya 1.992 jiwa tercatat berada di tiga lokasi pengungsian tersebut.

Untuk mendukung penanganan bencana, personel gabungan juga telah dikerahkan. Kekuatan tersebut terdiri dari 100 personel Polri, 31 personel TNI, 20 personel Brimob, dan lima personel Basarnas.

“Kehadiran personel gabungan bukan hanya untuk membantu proses evakuasi dan penanganan korban, tetapi juga memberikan rasa aman kepada masyarakat, mengamankan lokasi-lokasi terdampak, membantu pengaturan lalu lintas serta mendukung distribusi bantuan dan kebutuhan masyarakat di pengungsian,” kata Henry.

Di sisi lain, kondisi pelayanan kesehatan juga menjadi perhatian. Hingga pembaruan terakhir, sebanyak 165 pasien RSUD Ruteng masih menjalani perawatan di tenda darurat yang didirikan di pelataran rumah sakit serta di jalan depan RSUD Ruteng.

Kapolda NTT, melalui Kabidhumas, meminta seluruh jajaran yang berada di lapangan untuk terus mengutamakan keselamatan masyarakat dan memberikan pelayanan secara cepat, humanis, serta terkoordinasi.

“Kami mengimbau masyarakat, khususnya yang berada di wilayah terdampak, agar tetap waspada terhadap kemungkinan terjadinya gempa susulan. Apabila berada di bangunan yang mengalami kerusakan, jangan memaksakan diri untuk masuk sebelum dinyatakan aman oleh petugas. Masyarakat juga diharapkan mengikuti arahan petugas dan memanfaatkan posko-posko yang telah disiapkan,” imbaunya.

Polda NTT juga mengingatkan masyarakat agar tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, terutama terkait jumlah korban maupun kondisi bangunan. Informasi resmi diharapkan menjadi rujukan utama agar tidak menimbulkan kepanikan di tengah masyarakat.

“Situasi ini merupakan duka kita bersama. Yang paling penting saat ini adalah keselamatan masyarakat, penanganan korban, pemenuhan kebutuhan para pengungsi dan percepatan proses pendataan. Kami mengajak seluruh elemen masyarakat untuk saling membantu dan tetap menjaga ketenangan. Polri bersama TNI, pemerintah daerah, Basarnas dan seluruh unsur terkait akan terus hadir di tengah masyarakat sampai proses penanganan bencana dapat dilakukan secara maksimal,” tegas Kombes Pol Henry Novika Chandra.

Polda NTT menegaskan bahwa data korban jiwa masih sangat mungkin berubah, mengingat laporan dari sejumlah lokasi terdampak masih terus masuk ke Posko Bencana dan proses verifikasi lapangan masih berlangsung. Masyarakat diimbau untuk terus mengikuti perkembangan informasi dari sumber resmi dan tetap mengedepankan keselamatan diri serta keluarga.