Diskusi Menggugah Hati: Frans Pati Herin Pandu Testimoni Empat Polisi Inspiratif di Mapolda NTT

Diskusi Menggugah Hati: Frans Pati Herin Pandu Testimoni Empat Polisi Inspiratif di Mapolda NTT

KUPANG — Suasana Aula Mapolda NTT mendadak hening saat satu per satu kisah pengabdian dibagikan dalam sesi diskusi dan testimoni pada launching buku Sisi Lain Polisi dan Srikandi Flobamorata. Dipandu Wartawan Senior Harian Kompas, Frans Pati Herin, dialog tersebut berubah menjadi ruang refleksi yang menggugah hati.

Frans Pati Herin dengan gaya khasnya yang tenang namun tajam, mengajak empat perwakilan personel Polri yang kisahnya diabadikan dalam buku untuk berbagi pengalaman tentang makna pengabdian di balik seragam.

Dari Kritis 1 Persen Harapan Hidup, Lahir PAUD dan Panti Asuhan

Testimoni pertama datang dari Inspektur Polisi Dua (Ipda) Ristiany Densy Doko, Polwan yang kini bertugas di Satuan Lalu Lintas Polres Belu. Dengan suara bergetar, ia mengisahkan titik balik hidupnya.

“Saya bangga jadi polisi jika bisa membantu sesama dengan ikhlas,” ungkap Ipda Densy.

Ia menceritakan pengalaman pahit pada Oktober 2017, usai melahirkan anak ketiganya. Saat itu ia mengalami pendarahan hebat akibat Inversio Uteri dan dinyatakan dalam kondisi kritis. Secara medis, peluang hidupnya disebut hanya satu persen.

Namun dari pengalaman nyaris kehilangan nyawa itu, lahir tekad baru dalam dirinya. Sejak 2019, ia mendirikan PAUD El Shaddai Fohomea dan Panti Asuhan Harapan Kita di bawah Yayasan Gracia Hati Mulia yang ia dirikan sendiri.

Baginya, kesempatan hidup kedua adalah panggilan untuk lebih banyak berbagi.

Polisi Mengubah Nira Lontar Jadi Harapan Baru

Kisah berikut datang dari Bripka Gede Suta, Bhabinkamtibmas Desa Benu, Kecamatan Takari, Kabupaten Kupang.

Melihat kondisi desanya, ia prihatin karena produksi minuman alkohol tradisional dari nira lontar kerap memicu persoalan sosial dan gangguan kamtibmas. Selain itu, pengolahannya dilakukan tanpa izin dan berpotensi menimbulkan masalah hukum.

Alih-alih menindak secara represif, ia memilih pendekatan pemberdayaan.

Ia mengarahkan para produsen minuman alkohol untuk beralih mengolah nira lontar menjadi gula merah. Dengan pendampingan dan pembinaan, masyarakat perlahan mengubah pola usaha mereka menjadi lebih produktif dan bernilai ekonomi tanpa menimbulkan dampak sosial negatif.

Langkah itu bukan hanya menjaga keamanan, tetapi juga membangun kemandirian ekonomi warga.

Seragam sebagai Pakaian Pengabdian

Kisah berikutnya disampaikan Aipda Veronika Kolidin, S.I.Kom. Sejak awal kariernya, ia menegaskan bahwa seragam Polri bukan simbol kekuasaan, melainkan simbol pengabdian dan kemanusiaan.

Tahun 2003 menjadi titik penting ketika ia diterima sebagai anggota Polri melalui pendidikan Sekolah Polisi Wanita (Sepolwan) Gelombang II. Ia teringat sosok almarhum AKBP Emerensiana Isabela, B.Sc., yang memberinya dukungan besar untuk meraih cita-cita.

“Dalam hati saya berjanji, kalau saya berhasil, saya akan menolong orang lain seperti dulu saya pernah ditolong,” tuturnya.

Janji itu ia pegang teguh dalam setiap langkah tugasnya, menjadikan dirinya pelindung, penolong, sekaligus penebar harapan bagi masyarakat.

Polisi yang Mengantar Pasien hingga Urus Administrasi

Kisah keempat datang dari Bripka Heribertus Tena. Sejak 2022, ia aktif membantu pelaksanaan program akses pelayanan kesehatan bagi masyarakat Kabupaten Manggarai Timur.

Di balik program pemerintah daerah tersebut, Heribertus secara sukarela mengoordinasikan penyaluran bantuan, mengantar pasien ke puskesmas, hingga membantu mengurus administrasi warga yang kesulitan.

Baginya, membantu masyarakat mendapatkan layanan kesehatan bukan sekadar tugas tambahan, melainkan panggilan kemanusiaan.

Diskusi yang Mengalirkan Air Mata

Sepanjang sesi, Frans Pati Herin tidak hanya menggali fakta, tetapi juga sisi emosional para narasumber. Ia mengajak audiens memahami bahwa kisah-kisah ini bukan pencitraan, melainkan pengabdian yang tumbuh dari pengalaman hidup, empati, dan rasa syukur.

Beberapa hadirin tampak terharu. Ruangan yang semula formal berubah menjadi ruang berbagi nilai dan kemanusiaan.

Diskusi tersebut memperlihatkan bahwa di balik seragam Polri, ada pribadi-pribadi yang berjuang dalam diam—membangun sekolah, mendirikan panti asuhan, menepati janji masa lalu, hingga mengantar warga sakit demi memastikan mereka mendapat perawatan.

Sesi testimoni itu menjadi bukti bahwa buku Sisi Lain Polisi dan Srikandi Flobamorata bukan sekadar kumpulan cerita, melainkan cermin bahwa polisi hadir tidak hanya saat ada masalah, tetapi juga dalam setiap denyut kehidupan masyarakat.

Dan seperti yang tersirat dalam diskusi siang itu, pengabdian paling bermakna adalah yang dilakukan dengan hati.