Ungkapan Duka Kapolda NTT untuk Guru di Pedalaman Timor

Ungkapan Duka Kapolda NTT untuk Guru di Pedalaman Timor

MALAKA – Di balik jalan panjang dan medan berat menuju pedalaman Timor, tersimpan kisah pengabdian seorang guru yang menghabiskan puluhan tahun hidupnya untuk mendidik anak-anak di pelosok.

Almarhumah Lusia Metom, seorang guru yang mengabdikan dirinya di Desa Manulea, Kecamatan Sasitamean, Kabupaten Malaka, telah berpulang. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, masyarakat, dan dunia pendidikan di wilayah tersebut.

Almarhumah meninggal dunia pada Sabtu, 12 September 2026, sekitar pukul 14.00 WITA di RSUD Prof. Dr. W.Z. Johannes Kupang setelah menjalani perawatan karena sakit. Ia meninggalkan dua orang anak dan tiga orang cucu.

Kabar duka tersebut turut mendapat perhatian dari jajaran Polda NTT. Kapolda NTT Irjen Pol. Dr. Rudi Darmoko, S.I.K., M.Si., menyampaikan belasungkawa dan penghormatan atas pengabdian almarhumah yang telah mendedikasikan hidupnya untuk pendidikan anak-anak di pedalaman Timor.

Sebagai bentuk penghormatan, Kapolda NTT mengarahkan agar karangan bunga dikirimkan ke rumah duka. Pesan duka dan penghormatan tersebut kemudian disampaikan secara langsung oleh Kapolres Malaka AKBP Riki Ganjar Gumilar, S.I.K., yang hadir di rumah duka di Dusun Fatubesi A, Desa Manulea, Kecamatan Sasitamean, Minggu (13/9/2026).

Kapolres Malaka turut membawa karangan bunga atas nama Kapolda NTT, sekaligus menyampaikan ungkapan belasungkawa kepada keluarga yang ditinggalkan. Karangan bunga dari Kapolres Malaka juga diberikan sebagai bentuk penghormatan dan kepedulian kepada keluarga almarhumah.

Kami hadir untuk menyampaikan secara langsung rasa duka cita dan penghormatan dari Kapolda NTT kepada keluarga almarhumah. Dedikasi beliau sebagai seorang guru yang mengabdikan diri bagi anak-anak di pedalaman merupakan sebuah pengabdian yang patut kita hormati,” ujar AKBP Riki Ganjar Gumilar.

Menurut Kapolres, kehadiran di rumah duka bukan sekadar bentuk seremonial, tetapi bagian dari kepedulian Polri terhadap masyarakat. Di tengah tugas menjaga keamanan dan ketertiban, polisi juga hadir ketika masyarakat sedang mengalami masa sulit dan kehilangan.

Perjalanan menuju Desa Manulea yang berjarak sekitar 258 kilometer dari Kota Kupang menjadi gambaran tersendiri tentang perjuangan masyarakat di wilayah pedalaman. Kondisi jalan yang berat dan medan perbukitan tidak menyurutkan langkah untuk menyampaikan rasa hormat kepada sosok yang selama hidupnya memilih mengabdi jauh dari pusat kota.

Pengabdian seorang guru tidak mengenal batas tempat. Apa yang telah dilakukan almarhumah untuk anak-anak didiknya akan terus menjadi bagian dari kenangan dan kebaikan yang diwariskan kepada generasi berikutnya,” tambah Kapolres.

Bagi keluarga, kehadiran Kapolres Malaka membawa pesan bahwa duka mereka tidak berjalan sendirian. Ada perhatian dan penghormatan yang datang dari jajaran kepolisian, hingga dari pimpinan tertinggi Polda NTT.

Kehadiran tersebut sekaligus mencerminkan semangat NTT Penuh Kasih, di mana Polri tidak hanya hadir ketika masyarakat membutuhkan perlindungan, tetapi juga ketika warga membutuhkan kekuatan untuk melewati masa kehilangan.

Lusia Metom telah menyelesaikan pengabdiannya. Namun, jejaknya sebagai seorang guru di pedalaman Timor akan tetap hidup melalui anak-anak yang pernah dididiknya dan keluarga yang mengenang ketulusan pengabdiannya.

Dari rumah sederhana di Dusun Fatubesi A, pesan itu terasa begitu kuat: seorang guru mungkin pergi, tetapi ilmu, keteladanan, dan kasih yang ditanamkan akan terus tumbuh di tengah generasi yang ditinggalkannya.

#NttPenuhKasih