Kapolres Flores Timur Gaungkan Semangat Damai dalam Sarasehan Penanganan Konflik Komunal Adonara
Flores Timur – Di tengah hamparan tanah Adonara yang kaya akan sejarah, budaya, dan nilai persaudaraan Lamaholot, sebuah pesan kuat tentang perdamaian menggema dari Desa Horinara, Kecamatan Kelubagolit, Senin (1/6/2026).

Ratusan peserta yang terdiri dari unsur Forkopimda, tokoh adat, tokoh agama, akademisi, kepala desa, hingga perwakilan masyarakat dari berbagai wilayah di daratan Adonara berkumpul dalam Sarasehan Penanganan Konflik Komunal Kabupaten Flores Timur Tahun 2026. Forum tersebut menjadi ruang refleksi bersama untuk mencari jalan keluar atas konflik-konflik yang selama ini kerap membayangi kehidupan masyarakat.

Bupati Flores Timur, Ir. Antonius Doni Dihen, dalam sambutannya mengajak seluruh masyarakat untuk meninggalkan paradigma lama yang menganggap konflik sebagai sesuatu yang biasa.
"Perang tanding dan konflik tidak boleh lagi menjadi warisan bagi generasi berikutnya. Yang harus kita wariskan adalah persaudaraan, kedamaian, dan kemajuan," tegasnya.

Sepanjang kegiatan, berbagai narasumber dari kalangan akademisi, tokoh agama, aparat keamanan, hingga pemerintah daerah menyampaikan pandangan mengenai akar konflik yang selama ini terjadi, khususnya sengketa tanah, hak ulayat, dan batas wilayah adat yang kerap memicu ketegangan antar kelompok masyarakat.
Namun, salah satu pesan yang paling mendapat perhatian datang dari Kapolres Flores Timur AKBP Adhitya Octorio Putra, S.I.K.
Di hadapan para tokoh adat, kepala desa, dan masyarakat, Kapolres menegaskan bahwa sarasehan tersebut bukan sekadar forum diskusi, melainkan momentum penting untuk membangun kesadaran kolektif bahwa perdamaian adalah tanggung jawab bersama.
Menurutnya, konflik yang terjadi selama ini sering kali berawal dari perbedaan penafsiran sejarah, silsilah, hak ulayat, maupun batas wilayah adat yang diwariskan secara turun-temurun.
"Negara mengakui keberadaan hak-hak masyarakat adat. Namun setiap klaim harus ditempatkan dalam koridor hukum yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan. Adat dan hukum negara harus berjalan beriringan untuk menjaga keadilan dan perdamaian," ujar Kapolres.
AKBP Adhitya menegaskan bahwa Polri akan terus mengedepankan pendekatan persuasif dan preventif dalam menjaga keamanan masyarakat. Namun, apabila terdapat pelanggaran hukum yang memenuhi unsur pidana, maka proses hukum tetap akan dilakukan secara profesional sesuai ketentuan yang berlaku.
Lebih jauh, Kapolres mengungkapkan bahwa semangat perdamaian yang dibangun dalam sarasehan tersebut sejalan dengan pesan yang selalu disampaikan Kapolda NTT, Irjen Pol. Dr. Rudi Darmoko, S.I.K., M.Si.
"Pesan yang terus disampaikan Bapak Kapolda NTT adalah bahwa keamanan dan kedamaian harus dibangun melalui pendekatan yang humanis, dialogis, dan penuh kasih. Sejalan dengan semangat Polda NTT Penuh Kasih, kami mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan rekonsiliasi sebagai jalan utama dalam menyelesaikan setiap persoalan, bukan kekerasan ataupun aksi balas dendam," tegas AKBP Adhitya.
Pernyataan tersebut mendapat sambutan positif dari para peserta yang hadir. Di tengah berbagai dinamika sosial yang pernah terjadi di Adonara, pesan tentang kasih, dialog, dan rekonsiliasi dinilai menjadi fondasi penting dalam membangun masa depan yang lebih baik.
Sebagai puncak kegiatan, seluruh peserta menandatangani Komitmen Bersama Atas Konflik Komunal Kabupaten Flores Timur dan Jalan Baru Kemartabatan Lewotana.
Komitmen tersebut memuat sejumlah kesepakatan penting, di antaranya menghormati hak ulayat, mengedepankan komunikasi dalam penyelesaian sengketa, menolak segala bentuk kekerasan dan provokasi, tidak melakukan mobilisasi massa, serta membuka ruang mediasi dan penyelesaian melalui jalur hukum maupun musyawarah.
Tak hanya itu, seluruh peserta juga sepakat menjunjung tinggi falsafah Lamaholot "Kakan dike arin sare, kakan keru arin baki", yang mengajarkan pentingnya saling menjaga, saling menghormati, dan hidup dalam persaudaraan.
Bagi Polres Flores Timur, komitmen tersebut menjadi modal sosial yang sangat berharga dalam menjaga stabilitas keamanan di wilayah Adonara.
"Kami melihat adanya tekad yang kuat dari seluruh elemen masyarakat untuk menjaga perdamaian. Ini menjadi fondasi penting bagi proses rekonsiliasi dan pembangunan daerah ke depan," kata Kapolres.
Sarasehan yang berlangsung hingga sore hari itu ditutup dengan harapan besar agar Adonara tidak lagi dikenal karena konflik yang berulang, melainkan menjadi simbol kematangan budaya, kuatnya persaudaraan, dan kemampuan masyarakatnya menyelesaikan persoalan melalui dialog dan musyawarah.
Di bawah semangat Polda NTT Penuh Kasih, pesan yang mengemuka dari Horinara hari itu sederhana namun sangat bermakna: bahwa perdamaian bukan sekadar cita-cita, melainkan pilihan bersama yang harus dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang demi Flores Timur yang aman, harmonis, dan bermartabat.
#PoldaNTTPenuhKasih
#PolriUntukMasyarakat
#FloresTimurDamai
#AdonaraBerdamai
Humas Polda NTT
