Korban Meninggal Gempa Flores di Manggarai Bertambah Menjadi 24 Orang, Kerusakan Capai 1.034 Fasilitas
MANGGARAI — Dampak gempa bumi yang mengguncang wilayah Flores terus diperbarui. Di Kabupaten Manggarai, jumlah korban meninggal dunia bertambah menjadi 24 orang, sementara total fasilitas yang mengalami kerusakan mencapai 1.034 fasilitas hingga Minggu (16/8/2026) pukul 12.00 WITA.
Data tersebut dihimpun dari Posko Bencana Kabupaten Manggarai berdasarkan laporan personel di lapangan. Satu tambahan korban meninggal dunia tercatat berasal dari Kecamatan Reok.
PLH. Kabidhumas Polda NTT Kombes Pol Sajimin, S.I.K., M.H., mengatakan jajaran Polda NTT terus memantau perkembangan situasi dan mendorong seluruh personel untuk bergerak bersama unsur terkait dalam penanganan dampak gempa.
“Bapak Kapolda NTT menginstruksikan seluruh jajaran agar terus hadir di tengah masyarakat, membantu proses evakuasi, memberikan pelayanan kepada pengungsi, serta memastikan situasi keamanan tetap terjaga di wilayah terdampak,” ujar Kombes Pol Sajimin.
Berdasarkan data sementara, korban meninggal dunia tersebar di sejumlah wilayah Kabupaten Manggarai. Kecamatan Reok menjadi wilayah dengan jumlah korban terbanyak, yakni 13 orang, disusul Kecamatan Reok Barat sebanyak empat orang, RSUD Ruteng tiga orang, Kecamatan Langke Rembong dua orang, Kecamatan Cibal satu orang dan Kecamatan Cibal Barat satu orang.
Salah satu korban tambahan tercatat bernama Rahman Ahmad, laki-laki berusia 37 tahun, warga Tampode, Desa Salama, Kecamatan Reok. Korban meninggal di Pantai Waso, Desa Satar Kampas, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur.
Kerusakan Fasilitas Melonjak
Selain korban jiwa, dampak gempa juga menyebabkan kerusakan terhadap berbagai fasilitas. Data terbaru menunjukkan jumlah fasilitas terdampak meningkat dari sebelumnya 351 fasilitas menjadi 1.034 fasilitas.
Kerusakan tersebut meliputi fasilitas pemerintah, pendidikan, fasilitas umum, tempat ibadah hingga rumah atau fasilitas milik masyarakat.
Untuk fasilitas pemerintah tercatat 10 fasilitas mengalami kerusakan, terdiri dari delapan rusak berat, satu rusak sedang dan satu rusak ringan.
Fasilitas pendidikan tercatat 14 fasilitas, seluruhnya mengalami rusak berat. Sementara fasilitas umum sebanyak sembilan fasilitas, dengan tujuh rusak berat dan dua rusak ringan.
Kerusakan juga terjadi pada tempat ibadah sebanyak tiga fasilitas, terdiri dari dua rusak berat dan satu rusak sedang.
Jumlah terbesar berasal dari fasilitas masyarakat, yakni 998 fasilitas, dengan rincian 730 rusak berat, 74 rusak sedang dan 194 rusak ringan.
Enam Posko Tampung Ribuan Pengungsi
Untuk memastikan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi, saat ini terdapat enam posko yang tersebar di sejumlah wilayah Kabupaten Manggarai.
Posko tersebut meliputi Posko Induk di Kantor BPBD Kelurahan Watu, Posko RSUD Ruteng dengan 150 pengungsi, Posko RS St. Rafael Cancar dengan 15 pengungsi, Posko Kecamatan Cibal dengan 80 pengungsi, Posko Kecamatan Reok di Lapangan Barangkolong dengan 1.330 pengungsi, serta Posko Golo Sita, Desa Ruis, Kecamatan Reok, yang menampung 583 pengungsi.
Dengan demikian, sedikitnya 2.158 orang tercatat berada di sejumlah posko pengungsian yang telah terdata, belum termasuk Posko Induk yang saat ini belum terdapat pengungsi.
Berbagai bantuan juga telah didistribusikan ke posko-posko tersebut, mulai dari tenda, terpal, genset, sembako berupa makanan dan minuman, hingga bantuan pelayanan kesehatan.
Ratusan Personel Dikerahkan
Dalam penanganan bencana gempa bumi di Kabupaten Manggarai, kekuatan personel gabungan yang dikerahkan mencapai 156 personel, terdiri dari 100 personel Polri, 31 personel TNI, 20 personel Brimob dan lima personel Basarnas.
Kombes Pol Sajimin menegaskan, personel Polres Manggarai bersama unsur gabungan terus melakukan evakuasi korban dan memberikan pelayanan di posko pengungsian.
“Personel juga melakukan patroli untuk mencegah terjadinya potensi gangguan keamanan di tengah kepanikan masyarakat. Kami ingin memastikan masyarakat tetap merasa aman, baik saat proses evakuasi maupun selama berada di lokasi pengungsian,” jelasnya.
Ia menambahkan, data dampak bencana masih bersifat dinamis dan terus diperbarui berdasarkan laporan dari lapangan.
“Data masih terus bergerak sesuai perkembangan dan laporan petugas di lapangan. Karena itu, kami mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan mengikuti informasi resmi dari petugas,” katanya.
Polda NTT memastikan koordinasi antara Polri, TNI, Basarnas, pemerintah daerah dan seluruh unsur terkait terus diperkuat. Penanganan difokuskan pada penyelamatan korban, pelayanan pengungsi, pemenuhan kebutuhan dasar, pengamanan wilayah serta pemantauan potensi bencana susulan.
Di tengah situasi yang masih penuh keprihatinan, kehadiran personel gabungan di berbagai titik pengungsian menjadi bagian dari upaya memastikan masyarakat Manggarai tidak menghadapi dampak gempa seorang diri.
#NttPenuhKasih #PrayForFloresNTT
Humas Polda NTT
